03-November-2025 | Dilihat: 396 kali

Ketua Pembina Yayasan Dharma Husada Insani Garut Tekankan Pentingnya Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup dalam Pembinaan Mahasiswa STIKes Karsa Husada Garut
...

Garut, 31 Oktober 2025 — Ketua Pembina Yayasan Dharma Husada Insani Garut (DHIG) memberikan arahan bermakna pada kegiatan Pembukaan Mentoring Mahasiswa dan Pengajian/Tadabur Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh DKM Tarbiyatul Insani STIKes Karsa Husada Garut pada Jumat, 31 Oktober 2025, pukul 09.00 WIB.

Dalam arahannya, Ketua Pembina menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, sehingga menjadi kewajiban bagi setiap insan untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beliau juga menekankan bahwa seluruh civitas akademika STIKes Karsa Husada Garut hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dengan semangat keimanan kepada Allah SWT.

Lebih lanjut, Ketua Pembina mengajak seluruh pihak untuk membangun lingkungan kampus yang berkarakter GBR (Ger akan Bersih dan Rapih), tapi bukan masalah kebersihan saja tapi lingkungan yang mencerminkan kepribadian insan beriman, beradab, dan berakhlak mulia. Kampus yang berkarakter GBR, menurut beliau, bukan hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang seimbang.

Beliau menegaskan, melalui kegiatan mentoring dan pembinaan berkelanjutan, setiap dosen dan tenaga kependidikan harus berperan aktif membangun budaya akademik yang baik dan penuh keteladanan. Sementara itu, mahasiswa didorong untuk memiliki semangat kritis, rasa ingin tahu tinggi, serta kemauan kuat dalam menuntut ilmu , baik ilmu akademik maupun ilmu yang berakar pada nilai-nilai keagamaan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pembina juga mengingatkan pentingnya adab dalam berilmu. Menurut beliau, “Ilmu tanpa adab dapat menimbulkan kesombongan dan kehilangan arah moral.” Karena itu, ilmu pengetahuan, terutama yang bersumber dari ajaran agama, harus mampu menjadi panduan hidup dalam beribadah, berakhlak, dan menghadapi tantangan kehidupan modern, agar seluruh civitas akademika mampu meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sebagai bentuk refleksi dan renungan bersama, Ketua Pembina menyampaikan beberapa pertanyaan strategis yang patut menjadi bahan pemikiran dan arah kebijakan kampus ke depan, yaitu:

  1. Bagaimana strategi kampus dalam memperkuat adab dalam berilmu, mengingat banyak orang yang berilmu tetapi belum tentu beradab?
  2. Bagaimana upaya kampus memastikan bahwa mahasiswa dapat membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik? Apakah perlu disediakan pendamping khusus atau program pembinaan intensif?
  3. Apakah prestasi akademik semata-mata menjadi ukuran keberhasilan mahasiswa, atau perlu dilengkapi dengan prestasi moral dan spiritual?
  4. Apakah prestasi akademik patut dibanggakan secara berlebihan, atau seharusnya menjadi dorongan untuk lebih rendah hati dan bersyukur?
  5. Bagaimana langkah konkret agar mahasiswa dapat menyeimbangkan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat, sehingga menjadi insan yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara spiritual?

Kegiatan yang dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa STIKes Karsa Husada Garut ini berlangsung dengan penuh kekhusyuan dan antusiasme. Suasana pembinaan terasa hangat dan reflektif, mencerminkan semangat kampus dalam mengintegrasikan ilmu, iman, dan amal dalam setiap langkah perjalanan akademiknya.***