05-Juli-2025 | Dilihat: 542 kali

WAKIL BUPATI GARUT RESMIKAN GERAKAN BERSIH RAPIH (GBR) DI STIKES KARSA HUSADA GARUT
...

Garut – Jumat, 4 Juli 2025-Dalam rangka memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai agen perubahan sosial, Wakil Bupati Garut, Teh Putri Karlina, secara resmi meresmikan peluncuran Gerakan Bersih dan Rapih (GBR) di STIKes Karsa Husada Garut, Jumat (4/7/2025). Program ini merupakan inisiatif strategis yang mengintegrasikan nilai-nilai kesadaran lingkungan, kesehatan, dan spiritualitas ke dalam sistem pembinaan akademik mahasiswa.

Peluncuran GBR menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan masyarakat dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Teh Putri mengapresiasi Yayasan Dharma Husada Insani Garut dan  STIKes Karsa Husada yang telah mengambil peran aktif dalam menjawab persoalan lingkungan. Ia menegaskan bahwa masalah sampah tidak bisa lagi dianggap remeh, karena telah berdampak langsung terhadap bencana alam seperti banjir dan longsor di Garut.

Kesadaran masyarakat adalah investasi termahal. Sebagus apa pun fasilitas yang dibangun, jika tidak dibarengi dengan kesadaran, maka semuanya akan sia-sia,” tegas Teh Putri.

Ketua STIKes Karsa Husada Garut, H. Engkus Kusnadi, S.Kep, M.Kes, menyatakan bahwa GBR merupakan wujud tanggung jawab institusi dalam mendidik mahasiswa menjadi pribadi yang sehat, cerdas, dan peduli lingkungan. Ia juga menyampaikan bahwa STIKes akan menjadwalkan aktivitas olahraga dan bersih-bersih setiap Jumat pagi sebelum perkuliahan, sebagai bagian dari integrasi nilai hidup sehat ke dalam rutinitas akademik.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Dharma Husada Insani Garut, Dr. H. Hadiat, MA., memberikan sambutan mendalam mengenai makna strategis dari peluncuran GBR ini. Ia menyebut GBR sebagai bagian dari golden period kedua bagi mahasiswa—sebuah fase penting pembentukan karakter setelah fase dasar di keluarga dan pendidikan dasar-menengah.

Jika kita ingin mencetak sumber daya manusia unggul seperti di negara maju, maka pendidikan tinggi harus lebih dari sekadar transfer ilmu. GBR ini adalah gerakan karakter, yang menanamkan kedisiplinan, kepedulian sosial, dan spiritualitas,” ujarnya.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membangun budaya sadar lingkungan dan kehidupan sehat. Ia mengingatkan bahwa karakter dan soft skills tidak bisa dibentuk instan, melainkan melalui kebiasaan baik yang terstruktur dan konsisten.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan kurikulum formal. Harus ada gerakan kultural yang membentuk mahasiswa menjadi insan yang tidak hanya berpikir dengan otak saja, tapi juga dengan hati dan nurani. GBR ini adalah contoh bagaimana karakter bisa dibentuk melalui aktivitas harian yang menyentuh kesadaran.”

Dr. Hadiat juga menegaskan bahwa yayasan akan terus mendukung program-program yang memperkuat nilai-nilai keislaman, kebersihan, dan tanggung jawab sosial. Ia berharap GBR bisa menjadi model bagi institusi pendidikan lainnya di Kabupaten Garut dan sekitarnya.

Sementara itu Koordinator GBR, Karnoto, S.Kep, M.Si, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada tiga pilar utama: hidup bersih dan rapih, hidup sehat, dan hidup religius. Menurutnya, ketiga aspek ini harus berjalan bersamaan agar mahasiswa berkembang secara utuh sebagai insan akademik dan sosial.

Program ini dirancang tidak hanya harian, tetapi juga periodik dengan sistem manajemen dan SOP yang jelas. Kami juga akan bersinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan siap mendukung agenda lingkungan Pemerintah Daerah,” jelasnya.

Dengan semangat kolaborasi antara kampus, yayasan, dan Pemerintah Daerah, peluncuran GBR menjadi tonggak awal bagi transformasi budaya hidup bersih, sehat, dan religius, sebagai landasan menuju Garut yang lebih lestari.***