05-September-2026 | Dilihat: 17 kali

SEHAT BERSAMA, BERBAGI SESAMA: YAYASAN DHARMA HUSADA INSANI GARUT DAN INSTITUT KESEHATAN KARSA HUSADA GARUT (IKKHG) HADIR DI TENGAH MASYARAKAT GARUT
...

GARUT, 4 September 2026 — Pagi itu, Lapangan Kerkop, Jalan Merdeka, Garut, tidak hanya dipenuhi oleh mereka yang ingin berolahraga. Di tengah gerak langkah dan suasana kebersamaan, hadir pula sebuah pesan sederhana namun bermakna: kesehatan akan menjadi lebih berarti ketika dapat dirasakan dan dibagikan bersama.

Yayasan Dharma Husada Insani (YDHIG) bersama Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG) menggelar kegiatan senam dan olahraga bersama civitas academica serta masyarakat, yang dirangkaikan dengan layanan kesehatan gratis bagi warga yang hadir di Lapangan Kerkop.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Warga yang sejak pagi datang untuk berolahraga juga berkesempatan memperoleh pemeriksaan dan layanan kesehatan secara langsung.

Suasana pagi terasa semakin hangat ketika mahasiswa, dosen, pegawai, dan masyarakat berbaur dalam satu kegiatan. Tidak ada sekat antara kampus dan masyarakat. Semua hadir dalam semangat yang sama: bergerak bersama untuk hidup yang lebih sehat.

 

Kesehatan Bukan Hanya untuk Dipelajari, tetapi untuk Dihadirkan

Ketua Pembina YDHIG, Dr. H. Hadiat, M.A., menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kita ingin kesehatan tidak hanya menjadi ilmu yang dipelajari di kampus, tetapi menjadi nilai yang benar-benar hadir dan dirasakan oleh masyarakat.”

Menurutnya, institusi pendidikan kesehatan memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada lingkungan sekitarnya.

“Ketika mahasiswa belajar tentang kesehatan, kemudian mereka turun langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat, di situlah ilmu menemukan maknanya. Ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dan memberikan manfaat.”

Ia juga mengajak seluruh civitas academica IKKHG untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jangan menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan. Mari kita biasakan bergerak, berolahraga, menjaga pola hidup, dan saling mengingatkan.”

Bagi Ketua Pembina, tubuh yang sehat bukan sekadar persoalan fisik. Kesehatan menjadi modal penting untuk bekerja dengan baik, belajar dengan sungguh-sungguh, melayani dengan tulus, dan memberikan manfaat kepada sesama.

“Tubuh yang sehat akan membantu kita memiliki pikiran yang sehat, semangat yang baik, dan kemampuan untuk terus berkarya. Karena itu, saya mengajak pegawai, dosen, dan mahasiswa untuk menjaga kesehatan mulai dari diri sendiri.”

 

Ketika Kampus Turun Menyapa Masyarakat

Rektor IKKHG menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan bersama seperti ini menjadi bagian penting dari upaya membangun hubungan yang semakin dekat antara perguruan tinggi dan masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi ruang yang sangat baik bagi civitas academica untuk hadir langsung bersama masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar memahami kehidupan dan kebutuhan masyarakat secara langsung.”

Layanan kesehatan gratis yang diberikan pada kesempatan tersebut juga menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.

Kehadiran mahasiswa dalam pelayanan kesehatan memberikan pengalaman berharga bahwa profesi di bidang kesehatan pada akhirnya bukan hanya tentang keterampilan, tetapi juga tentang kepedulian, empati, dan kemanusiaan.

Kami ingin mahasiswa memahami bahwa di balik setiap pasien ada manusia yang membutuhkan perhatian. Karena itu, kemampuan profesional harus berjalan bersama dengan kepedulian,” ujar Rektor.

 

Sehat untuk Diri, Bermanfaat untuk Sesama

Kegiatan di Lapangan Kerkop meninggalkan pesan yang sederhana.

Bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang cukup dengan bangun lebih pagi, berjalan kaki, berolahraga, menjaga makanan, memeriksakan kesehatan, dan saling mengingatkan untuk hidup lebih sehat.

Dan yang tidak kalah penting, kesehatan juga dapat menjadi jalan untuk berbagi.

Hari itu, lapangan olahraga menjadi ruang perjumpaan. Mahasiswa bertemu masyarakat. Dosen dan pegawai berbaur dengan warga. Mereka berolahraga bersama, berbincang, tersenyum, dan saling memberikan perhatian.

Di situlah semangat IKKHG menemukan makna yang lebih luas.

Bukan hanya menjadi institusi yang mengajarkan ilmu kesehatan, tetapi menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menjaga kesehatan masyarakat.

Ketua Pembina YDHIG pun mengajak seluruh keluarga besar IKKHG untuk mempertahankan kebiasaan tersebut.

“Mari kita jadikan olahraga sebagai budaya. Sehat bersama, bekerja bersama, belajar bersama, dan memberikan manfaat bersama. Karena pada akhirnya, keberadaan kita akan menjadi berarti apabila kehadiran kita dirasakan oleh orang lain.”

Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kampus tidak berdiri sendiri. Kampus tumbuh bersama masyarakat dan pada saat yang sama memiliki tanggung jawab untuk kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dari sebuah gerakan kecil di lapangan, tumbuh sebuah pesan besar:

Menjaga kesehatan adalah bentuk kasih kepada diri sendiri. Membantu orang lain menjaga kesehatan adalah bentuk kasih kepada sesama.” Kata Hadiat menutup obrolan dengan kami

Dari kampus untuk masyarakat. Dari ilmu menjadi pengabdian. Dari kesehatan tumbuh kemanusiaan.